Batik Terogong di SD Negeri Pejaten Timur

Bangga dengan hasil karya ..

sdn pejaten timur 5 sdn pejaten timur 4 sdn pejaten timur 3 sdn pejaten timur 2

Pelatihan membatik oleh LMK Kelurahan Cilandak

Dalam kegiatan pelatihan membatik yg diselenggarakan oleh LMK kelurahan cilandak..
Peserta tekun dan sangat antusias…

lmk_cilandak5 lmk_cilandak6lmk_cilandak4 lmk_cilandak3 lmk_cilandak2

” Betawi punya gaye menyambut MEA 2015″ bersama mahasiswa UNAS dan Batik Betawi Terogong..

Di kampus UNAS Pejaten.

unas3

unas2

Senangnya mendapat kunjungan dari ANTARA..

Sebarkan kabar tentang batik Betawi kepada dunia…..

antara_1

 

antara_2

KabariNews: Betawi Punya Batik Sendiri

Harry Prasetyo. Oktober 15, 2015. Serba Serbi

http://kabarinews.com/betawi-punya-batik-sendiri/80271

KabariNews – Jamak diketahui jika orang mengenal Batik banyak berasal dari Jawa Tengah dan Timur. Lantas bagaimana dengan keberadaan Batik Betawi yang lahir di tanah Jakarta?, seperti tak bergaung seraya kalah pamor. Belum lagi dengan miskinnya literasi dan promosi yang mungkin bisa dijadikan biang keladi yang membuat Batik Betawi seperti tenggelam kehadirannya.

Namun siapa sangka, di tangan segelintir orang yang peduli dengan Batik Betawi, batik jenis ini terus menunjukkan eksistensinya. Seperti yang nampak dari aktivitas yang dilakukan oleh ibu-ibu paruh baya di Kampung Batik Betawi Terogong suatu sore beberapa waktu yang lalu. Dalam candanya mereka serius men-canting Batik dengan motif khas Batik Betawi seraya menunjukan Betawi punya batiknya sendiri.

Siti Laela (Pengelola Batik Betawi Terogong) yang berada diantara ibu-ibu tersebut dalam perbincangannya dengan KABARI mengatakan Batik Betawi Terogong sudah berdiri dan beraktivitas sejak September 2012. Ihkwal berdirinya, kebetulan Siti merupakan putri asli kelahiran Jakarta, hati kecilnya tergerak untuk mempopulerkan Batik Betawi. Sebab Batik disini, maksudnya di wilayah tempat tinggalnya bukanlah barang baru karena sudah ada sejak dekade 1960-an.

Siti mengingat ibu-ibu di daerah ini pekerjaannya dulu adalah membatik selain bertani. Kalau dulu Batik Betawi disebut Batik Jakarta dengan motifnya berupa bintang, buketan dan motif lainnya. “Waktu saya kecil banyak yang membatik di daerah tetapi pada tahun 1970-an Batik Jakarta mulai meredup pamornya. Dan sangat disayangkan sekali referensi tentang Batik Betawi sampai saai ini saya belum menemukan referensi literasi tentang batik ini” kata Siti.

Miskinnya literasi tentang Batik Betawi tidak menjadi masalah. Toh, Siti tetap akan terus mencari literasi tentang apa yang sekarang ini digelutinya. Soal batik yang dibuatnya , untuk proses pembuatan batik Betawi sebenarnya sama prosesnya dengan pembuatan batik jenis lainnya, yang berbeda hanya motifnya saja. Batik Betawi tidak mempunyai pakem, berbeda dengan batik-batik daerah lainnya yang memiliki pakem.

Akan halnya dengan warna Batik Betawi lebih cenderung ngejreng atau lebih cerah karena ada unsur budaya Cinanya. “Tapi kita tidak menutup kemungkinan bermain di warna yang lebih-lebih kalem, tergantung pemesanan saja. Dan motif dari Batik Betawi berupa tanaman, binatang, tumbuhan, khas-khas Betawi seperti ondel-ondel, tanjidor, transportasi zaman duhulu, dan simbol-simbol kota Jakarta” tutur Siti.

Menyoal Batik Betawi yang kalah pamor dengan batik-batik lainnya, Siti Laela menanggapinya secara enteng seraya berujar itu sebagai salah satu kendalanya, tetapi ia pikir kalahnya pamor justru menjadi motivasinya untuk terus memperkenalkan Batik Betawi ke khalayak luas dan mengatakan Batik Betawi tidak kalah dengan batik yang sudah ada sebelumnya, seperti Batik Cirebon, Solo atau daerah lainnya.

Untuk mengolah batik Betawi, Siti mendapatkan bahan baku untuk Batik Betawi Tengarongnya dari Pekalongan. Bahan batik Betawi Terogong-nya bermacam-macam, mulai dari katun prima dan katun primisima, dan sutera. Selain menjadi pakaian, Batik Betawi Tengarong juga diproduksi menjadi sandal, dompet, dres dan telapak meja.

Berbicara soal produksinya kalau tidak ada pesanan, Siti mengatakan sebulan sekitar 50-80 potong tetapi kalau ada pesanan bahkan lebih dari 200-an potong per-bulannya. Untuk motif batiknya tergantung dari pemesanan, biasanya mereka melihat motif yang Siti tawarkan dan yang paling disukai adalah motif ondel-ondel karena saya buat motif tanaman langka di Jakarta, tetapi tetap saja orang mencari motif ondel-ondel.

Siti memperkerjakan sekitar 10 orang bukan tenaga tetap. “Saya mencoba memberdayakan wanita sekitar di tempat tinggal saya, tetapi itu juga bukanlah hal mudah dilakukan. Jadi yang 10 ini tetap yang saya pertahankan untuk terus membatik. “ kata Siti. Sampai sekarang distribusi batiknya salah satunya dititipkan di gerai-gerai mal, dan tempat oleh-oleh Jakarta. Lebih banyak pesanan dari mulut ke mulut, dan juga Siti memasarkannya di media online dan sosial. Responnya pun cukup positif dan meningkat terus produksinya. Mereka yang membeli kebanyakan dari instansi pemerintah, swasta dan perorangan.

Untuk harganya, Siti mengatakan untuk batik cap di-kisaran harga per-potongnya dari 125 ribu sampai 300 ribu,untuk yang 125 ribu untuk satu warna, sedangkan yang 300 ribu untuk tiga warna. Dan untuk per-potong Batik Tulis seharga 350 ribu sampai diatas 1 juta, dan ini harga tergantung dari bahannya. Tertarik berkunjung? Kampung Batik Terogong ini berada di ke Jl. Terogong III, Cilandak Barat, Cilandak, Jakarta Selatan. (1009)

Siti Laela, Inspirator Pelestari Batik Betawi

Sumber: http://www.kompasiana.com/cermin/siti-laela-inspirator-pelestari-batik-betawi_5611a490f37a618f0cb09b9e

yos mo.

Kemacetan kota Jakarta dan kondisi jalan berlubang dimana-mana karena sedang ada pembangunan besar-besaran jalan layang, tak menyurutkan semangatku untuk menyambangi lokasi Pameran Batik Betawi Terogong di Lobby Area, BEST WESTERN PREMIER The Bellevue, Jl. Haji Nawi Raya No. 1, Radio Dalam, Jakarta Selatan. Rasa ingin tahuku yang besar kepada Batik Betawi, membuat diriku batalkan agenda kunjungi kantor rekan di kawasan Senayan, setelah sebelumnya ku hadir dalam konferensi pers acara atletik di Setiabudi.

Jujur, baru kali ini diriku mengetahui ada yang namanya Batik Betawi. Sepengetahuanku hanya mengenal yang namanya Batik Pekalongan, Batik Solo, Batik Semarang, Batik Madura, Batik Bali dan Batik Flores. Minatku terhadap batik bukan dadakan semata karena adanya Kompasiana Coverage kunjungi Pameran Batik Betawi Terogong. Diriku telah lama mendukung pelestarian kekayaan budaya tradisional batik. Bulan Maret 2012, kegiatanku belajar ‘Mbathik’ di Semarang, bahkan sempat masuk berita di salah satu media massa online besar. Tujuh bulan berselang, diriku memenangkan lomba blog dengan tema narsis mengenakan pakaian batik.

Karena agak ngebut di perjalanan dari Setiabudi ke Radio Dalam, diriku tiba di The Bellevue Radio Dalam satu jam lebih awal dari waktu acara Kompasiana Coverage yang direncanakan. Karena belum ada orang lain yang ku kenal hadir, sambil menunggu rekan Kompasianer yang lain tiba, diriku menyempatkan diri mengambil beberapa foto di lokasi Pameran Batik Betawi Terogong yang terletak di sudut lobby The Bellevue. Ondel-Ondel besar menjadi latar di booth yang menampilkan beberapa Kain Batik Betawi.

kompasiana2

 

(Kain Batik Betawi Terogong Yang Dipamerkan di The Bellevue)

Beberapa puluh menit setelah diriku menunggu di lobby hotel, rekan-rekan Kompasianer akhirnya berdatangan. Aku perhatikan ada empat Kompasianer yang datang mengenakan pakaian bercorak batik, yaitu Wardah Fajri, Dewi Puspasari, Uci Junaedi dan Tigor Simanjuntak.

Pukul 16.30 WIB, acara bincang-bincang membahas Batik Betawi dimulai, bertempat di Angsana Lounge yang terletak di lantai 1. Ibu Eleine Koeyono selaku Marcom Manager The Bellevue, sangat ramah menyambut kedatangan Kompasianer. Mpok Wardah Fajri yang kebetulan orang asli Betawi, tampak bersemangat menjadi moderator. Lalu Mpok Wardah Fajri memanggil Enyak Siti Laela sebagai nara sumber tentang Batik Betawi. Enyak Siti Laela tampil rapi mengenakan batik corak warna oranye dan hitam.

kompasiana3

(Enyak Siti Laela Sedang Bercerita Batik Betawi, dimoderatori Mpok Wardah)

Lalu Enyak Siti Laela bercerita banyak tentang Batik Betawi yang membuatku tergugah dan terkesan. Enyak Siti Laela mengawali ceritanya dengan mata sedikit berkaca-kaca, saat dirinya menceritakan tahun 1970-an kawasan Kampung Terogong masih kental dengan kebudayaan Betawi. Pada masa itu masih cukup banyak orang yang menjadi pengrajin Batik Terogong. Namun, saat ini kebudayaan Betawi di Terogong perlahan terkikis oleh kemajuan jaman, terlebih kawasan Kampung Terogong kini telah berubah jadi kawasan perumahan elit Pondok Indah.

Enyak Siti Laela merasa miris dengan kondisi bahwa sangat jarang warga Jakarta masa kini yang mengenal Batik Betawi. Padahal Batik Betawi sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Sayangnya, karena pendokumentasian yang buruk, hingga saat ini Enyak Siti Laela belum menemui dokumentasi tulisan atau foto otentik yang menjelaskan keberadaan Batik Betawi pada masa lampau. Enyak Siti Laela meyakini bahwa dokumentasi mengenai Batik Betawi ada di salah museum di Belanda seperti Museum Universitas Leiden.

Karena kecintaannya yang besar terhadap budaya Betawi, serta niat inging memberdayakan wanita Betawi di Kampung Terogong, Enyak Siti Laela yang juga berprofesi sebagai guru ini, memutuskan untuk mendirikan Sanggar Batik Betawi Terogong pada bulan September 2012.

Awalnya cukup sulit bagi Enyak Siti Laela untuk mengajak sesama wanita warga Kampung Terogong untuk menjadi pengrajin Batik, dengan alasan bagi warga lokal setempat menjadi orang kantoran jauh lebih keren dibandingkan jadi pengrajin batik. Namun sering berjalannya waktu, berkat kegigihan niat Enyak Siti Laela memberdayakan wanita setempat, saat ini sudah ada 15 orang yang aktif menjadi pengrajin Batik Betawi Terogong.

kompasiana4

(Pengrajin Batik Betawi Terogong/ sumber: istimewa/ Siti Laela)

Menurut penuturan Enyak Siti Laela, warna Batik Betawi cenderung cerah karena berasimilasi dengan unsur budaya Cina. Beberapa motif khas dari Batik Betawi adalah motif buketan, burung hong, ondel-odel, tanjidor dan berbagai simbol kota Jakarta. Motif andalan yang dipasarkan oleh Sanggar Batik Betawi Terogong adalah motif TEBAR MENGKUDU, yang merupakan kepedendekan kata dari Tekun Sabar Memang Kudu.

Enyak Siti Laela menyatakan bahwa proses distribusi pemasaran masih menjadi kendala utama dirinya dalam memperkenalkan Batik Betawi kepada khalayak luas. Maraknya penjualan batik cetak membuat skala penjualan batik tulis Betawi menjadi mengecil. Karena proses karya kreatif tangan spesial dalam pembuatan batik tulis, otomatis harga jual batik tulis lebih mahal dibandingkan batik cetak yang diproduksi dengan mesin cetak. Padahal batik cetak ini bukanlah merupakan batik. Sebuah kain bisa dikatakan sebagai batik jika kain tersebut melalui proses menggoretkan motif dengan canting dan dililin.

Enyak Siti Laela menambahkan, bahwa apresiasi orang lokal Indonesia untuk membeli batik tulis masih rendah. Sanggar Batik Betawi Terogong sering membuka stand di berbagai pameran, namun sangat langka orang Indonesia yang mau membeli batik tulis. Mirisnya, malahan warga negara asing yang memiliki ketertarikan tinggi untuk membeli batik tulis. Enyak Siti Laela mengaku memiliki pelanggan tetap yang berasal dari Brasil. Pada bulan Oktober ini, Enyak Siti Laela bahkan mendapatkan undangan dari Duta Besar Jepang untuk hadir dalam eksebisi batik.

Lama proses pembuatan kain batik Betawi Terogong tergantung dengan corak yang akan dibuat. Jika kain batik yang dikerjakan hanya terdiri dari dua warna, maka proses pengerjaannya hanya membutuhkan dua hari. Semakin banyak corak warna yang ditorehkan dalam membuat kain batik, maka proses pengerjaannya semakin lama.

Sanggar Batik Betawi Terogong menjual kain batik tulis ukuran 2,5 x 1,1 m seharga 450 ribu Rupiah untuk corak tiga warna, dan 350 ribu Rupiah untuk corak dua warna. Sedangkan batik cap dengan ukuran yang sama dijual dengan harga 200 ribu Rupisah untuk corak dua warna, dan 150 ribu Rupiah untuk corak satu warna. Enyak Siti Laela mengaku sering diajak oleh beberapa pihak untuk bekerja sama memproduki batik cetak menggunakan brand Batik Betawi Terogong, dengan tujuan untuk memperkecil harga jual. Namun Siti Laela menolak tawaran tersebut, karena dirinya bukan sekedar ingin menjual batik saja, namun ingin melestarikan budaya membatik ala Betawi.

Sanggar Batik Betawi Terogong sudah memanfaatkan kemajuan teknologi internet untuk memperkenalkan dan memasarkan produk, dengan membuat website www.batikbetawiterogong.com. Sanggar ini juga rajin memperkenalkan batik Betawi lewat berbagai aku media sosial seperti Fan Page Facebook dan Twitter.

kompasiana5

(Enyak Siti Laela & Ibu Eleine Koesyono)

Marcom Manager The Bellevue, Eleine Koesyono, mengaku juga baru tahu dengan adanya Batik Betawi Terogong. Karena kebetulan perusahaan tempat dirinya bekerja sedang menggelorakan semangat ‘We Love Indonesia’, Eleine Koesyono lalu mengajak Sanggar Betawi Terogong untuk memamerkan kain-kain batik di lobby hotel The Bellevue Radio Dalam dari tanggal 5 hingga 9 Oktober lalu.

kompasiana6

 

Berkat bincang-bincang asyik Kompasiana Coverage, wawasanku tentang batik bertambah. Aku juga senang bisa mengenal sosok luar biasa seperti Enyak Siti Laela yang telah berjuang sepenuh hati, menjadi inspirator pelestari Batik Betawi. Semoga makin banyak Siti Laela-Siti Laela lainnya yang tumbuh di penjuru negeri ini berjuang melestarikan kekayaan budaya tradisonal.

kompasiana7

Untuk intermezzo, diriku mau narsis juga ahh.. hehehehehe. Foto ini tahun 2012 lalu, pernah jadi juara lomba bertema narsis berpakaian batik.

(foto utama: istimewa/Siti Laela)

 

BEST WESTERN PREMIER The Bellevue mengadakan Pameran Batik Betawi Terogong, 5 – 10 Oktober 2015

Dalam rangka memperingati hari batik nasional Best Western Premiere Hotel bekerjasama dengan Batik Betawi Terogong bmengadakan pameran batik  dan demo membatik di lobby Hotel Best Western Premiere Pondok Indah mulai tanggal 5 – 10 Oktober 2015.

Seperti yang kita ketahui, Indonesia memiliki beragam motif batik yang berasal dari berbagai wilayah. Setiap motif batik memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing. Begitu pula dengan Batik Betawi Terogong yang pada umumnya memiliki warna cerah serta motif-motif yang terinspirasi dari nilai-nilai budaya masyarakat Betawi. Misalnya saja ondel-ondel, Sungai Ciliwung dan Peta Ceila.

Setelah sukses mengadakan The Sparkling Wedding Event pada Kamis (17/9/2015) lalu, BEST WESTERN PREMIER The Bellevue kembali mengadakan pameran yang tak kalah menarik, yaitu Pameran Batik Betawi Terogong. Pameran batik tersebut diselenggarakan dalam rangka merayakan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2015. Acaranya sendiri akan diadakan di Lobby Area, BEST WESTERN PREMIER The Bellevue selama lima hari berturut-turut, mulai dari 5 Oktober hingga 9 Oktober 2015 pada pukul 17.00 hingga 21.00 WIB.

Oleh karena itu, Kompasiana dan BEST WESTERN PREMIER The Bellevue ingin mengundang Anda untuk hadir dalam acara Kompasiana Coverage: Pameran Batik Betawi Terogong. Berikut rincian acaranya:

Acara: Kompasiana Coverage: Pameran Batik Betawi Terogong
Hari / Tanggal: Rabu, 7 Oktober 2015
Waktu: 16.30 – 20.00 (harap datang tepat waktu untuk proses registasi ulang)
Tempat: BEST WESTERN PREMIER The Bellevue – Jl. Haji Nawi Raya No. 1, Radio Dalam, Jakarta Selatan
Pembicara:
Pemilik dan Pengelola Sanggar Batik Betawi Terogong Siti Laela
Perwakilan dari BEST WESTERN PREMIER The Bellevue
Kapasitas Peserta: 15 Kompasianer
Aktivitas:
Edukasi Batik Betawi Terogong
Hotel Tour
Live Tweet Competition
Selama acara berlangsung, Kompasiana dan BEST WESTERN PREMIER The Bellevue akan memberikan hadiah menarik bagi peserta yang berpartisipasi dalam Live Tweet Competition. Caranya, tweet reportase acara yang paling menarik, cantumkan hashtag: #batikbetawiterogong, dan mention akun Twitter @BWPTheBellevue dan @kompasiana.

Kemudian, setelah acara berlangsung, pastikan Anda mengikuti Kompasiana Review dengan menuliskan reportase seputar acara Kompasiana Coverage: Pameran Batik Betawi Terogong. Nantinya, akan ada hadiah Voucher dari BEST WESTERN PREMIER The Bellevue untuk tulisan dengan reportase paling lengkap dan menarik.

Untuk mendaftarkan diri, segera kirimkan email ke kompasiana[at]kompasiana[dot]com dengan subyek “Pameran Batik Betawi Terogong” dan sertakan data diri sebagai berikut:

Nama
URL akun Kompasiana
Alamat
Nomor telepon

Sumber: http://www.kompasiana.com/kompasiana/kompasiana-coverage-mengenal-nilai-nilai-budaya-betawi-lewat-batik-betawi-terogong_56130e0408b0bdd4048b456b

Mengintip Batik Asli Dari Betawi

Tidak banyak yang tahu jika Ibu Kota Jakarta punya batik. Ya, batik betawi. Batik yang sudah mulai membumi ini bercirikan motif-motif seputar Jakarta. Mulai dari Ondel-ondel, Tugu Monas hingga Tugu Pancoran. Semua bisa ditemukan disalah satu Kampung Batik di Wilayah Cilandak Jakarta Selatan.

sumber : http://tv.detik.com/readvideo/2015/10/02/090031/151002001/061009681/mengintip-batik-asli-dari-betawi

Selamat Hari Batik Nasional… 2 Oktober 2015

“mari jaga dan lestarikan warisan budaya asli Indonesia”

Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional Indonesia untuk memperingati ditetapkannya batik sebagai Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009. dikutip dari wikipedia.org.

Batik Betawi Terogong di acara Happy Show Trans TV…

so happy with happy show…