Batik sebagai salah satu budaya asli Indonesia telah lama dikenal. Popularitasnya tidak hanya menjadikannya sebagai ikon budaya, tapi juga mampu menggerakkan perekonomian rakyat khususnya di Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta.
Meski belum setua dengan sejarah batik di daerah tersebut, DKI Jakarta Jakarta juga memiliki kerajinan Batik Betawi. Namun, uniknya sentra Batik Betawi yang berada di Jl Terogong 3, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, digerakkan kaum ibu.

Kaum Ibu Gerakkan Perekonomian Lewat Batik Betawi _2

Ya, kelompok ibu-ibu dari berbagai latar belakang di kawasan tersebut, sejak beberapa tahun terakhir ini menceburkan diri pada kerajinan batik. Dengan berbekal keterampilan dari hasil pelatihan, mereka yang dulunya bergantung dari para suami kini bisa menghasilkan pendapatan sendiri.

“Kita dapat pelatihan memproduksi batik itu sejak 2012 lalu, dan langsung berusaha untuk bisa menjalankan sendiri,” ujar Siti Laela, Penggerak Kelompok Batik Betawi Terogong kepada beritajakarta.com, Kamis (27/2).

Menurut Siti, dirinya yang merupakan asli Betawi tergerak untuk bisa melestarikan seni batik nenek moyang. Sehingga bersama 6 saudaranya, Siti membuka usaha Batik Betawi Terogong. “Awalnya saya 6 orang bersaudara memang bertekad membuka usaha Batik Betawi ini, dengan biaya patungan. Selesai pelatihan tidak ada bantuan dana, hanya bahan baku dan alat saja,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, lanjut Siti, usaha Batik Betawi yang digagasnya mengalami kemajuan. Sehingga diputuskan untuk mengajak kaum perempuan di Cilandak Barat dan sekitarnya untuk bergabung membantunya dalam produksi Batik Betawi Terogong. “Sudah mulai jelas pasarnya makanya kita ajak ibu-ibu di sini untuk bergabung membentuk produksi batik. Daripada hanya nonton sinetron, ini lebih menghasilkan,” terangnya.

Namun begitu, niat Siti untuk meningkatkan perekonomian warga sekitar pun juga terkendala. Awalnya ada 25 orang warga yang antusias ingin bergabung, namun di perjalanan banyak dari mereka yang mundur. “Kita buat pelatihan disertai psikolog untuk motivasi awalnya 25 orang. Tapi, semakin ke sini hanya tinggal 8 orang ibu-ibu yang bertahan,” katanya.

Menurutnya, minimnya sumber daya manusia (SDM), membuat Batik Betawi Terogong sulit memperluas pemasaran. Padahal, dari segi permintaan cukup banyak.

“Kita sudah pasarkan di galeri Cilandak Town Square. Ada permintaan di Atrium Senen dan Smesco, tapi belum bisa dipenuhi, karena ada batas kuota minimal seratusan per bulan,” tukasnya.

Saat ini dengan sekitar 15 orang yang bekerja dalam produksi, ia bisa menghasilkan batik cap/cetak 100-200 potong per bulan. Sementara batik tulis hanya 20 potong per bulan. “Kalau batik tulis minimal 1 potong saja pengerjaannya 1 minggu. Perputaran dana per bulan itu sekitar Rp 15-20 juta,” jelasnya.

Motif-motif Batik Betawi Terogong, menurutnya sangat bervariasi. Ada yang berupa penari Monas, penganten Betawi, sepeda ontel, hingga tanaman langka. Tapi, dari banyak motif itu yang menjadi andalan dan paling khas di Batik Betawi Terogong adalah tebar mengkudu. “Itu ada artinya tekun dan sabar memang kudu (harus). Jadi orang Betawi harus usaha terus. Jangan sampai menyerah, dan seperti buah mengkudu. Banyak khasiatnya,” jelas perempuan kelahiran 27 September 1963 yang juga merupakan Guru Bahasa Inggris di SMKN 20 Jakarta ini.

Untuk harga jual per potongnya, lanjut Siti, ia biasa menjual batik cap minimal Rp 200-500 ribu. Sementara untuk bahan sutera bisa di atas Rp 1 juta. “Tergantung dari motif, banyaknya warna, dan jenis bahan juga,” ucapnya.

Jaringan pemasarannya, imbuh Siti, selain di galeri yang ada di mal juga melalui pintu ke pintu. Selain itu ia juga memanfaatkan internet dengan membuat website www.batikbetawiterogong.com. “Ya masih konvensional. Makanya kita masih ingin bantuan dari pemprov dan pihak kelurahan untuk minimal membantu dalam SDM,” harapnya.

Sumber: beritajakarta.com